News or just a [bad] news?

Jogja, 16.30 WIB
Hari ini saya menonton berita disalah satu TV Swasta, pingin lihat perkembangan saat ini. Kenyataannya, isi beritanya tidak ada perkembangan, kebanyakan cuma seputar pencurian, pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, pe-korupsian, dan ‘pe-’ negatif lainnya. Di koran juga hampir sama.

Lama-lama jenuh juga melihat isi berita isinya tentang hal-hal yang negatif terus. Entah redaksinya males memuat berita tentang perkembangan yang baik dengan alasan Tidak Menjual atau karena di sekitar kita memang hal-hal baik sudah langka, yang tertinggal cuma kebobrokan masyarakat? Wallahu’alam

Untuk isi tentang perkembangan yang baik, sepertinya hanya mendapat porsi seadanya. Kasarnya, hanya sebagai jarak tipis antara media umum dengan media kriminal (buser, Sergap, TKP, de el el)

Yang jelas biasanya berita-berita yang berbau negatif biasanya lebih cepat laku dibanding berita-berita yang positif. masyarakat lebih suka judul mana “Oknum mahasiwa di Jogja Mengintip Dengan HIDDEN CAM” dibanding “Mahasiswa Jogja Berhasil Memenangkan Kejuaraan Robot di Jerman” ? atau “Perampok Bank di Jogja di bakar Massa” dengan “Seorang polisi berhasil menyelamatkan perampok dari amukan massa”. Pasti memilih berita yang negatif kan!?

Dari sini kita sudah bisa mengukur secara keseluruhan mutu media yang kita miliki. Demi mengejar oplah atau rating pemirsa, penerbit dan media berlomba-lomba menyuguhkan berita-berita negatif tersebut. Tidak ada pertimbangan efek yang akan terjadi di masyarakat. Seharusnya media juga bertanggung jawab dalam mendidik generasi selanjutnya

Porsi yang diberikan untuk good news tidak sepadan dengan membludaknya bad news yang selalu tampil di TV.

Memang untuk waktu yang singkat efek yang muncul pada masyarakat tidak terlihat, tapi kalau setiap hari dicekoki berita negatif, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan gosip, yang ditakutkan masyarakat lama-kelamaan akan terbiasa dengan hal tersebut, jadi bukan merupakan suatu hal yang tabu.

Dengan membanjirnya berita-berita negatif (bad news), pada akhirnya masyarakat hanya akan selalu berpandangan pesimis khan? Bayangkan saja anda seorang anak yang selalu dikatain ‘goblok!’ sama bapaknya, pasti anda akan tumbuh menjadi seorang yang pesimis banget. Betul gak?!

Untuk kalangan terpelajar dan cendikiawan (termasuk anda yang sedang membaca blog ini), saya rasa masih bisa mem-filter informasi yang masuk.

Berbeda dengan masyarakat umum yang hanya berpendidikan pas-pasan (Dan jumlahnya sangat banyak), masyarakat kita sebagian besar hanya menerima informasi dari media-TV (yang melulu muter acara gosip dan kriminal) dan koran (isinya juga gosip dan kriminal melulu).

Berita negatif yang terlalu banyak tanpa ada yang mengimbanginya tentu akan sangat berpengaruh buruk pada perkembangan pola pikir masyarakat. Bisa-bisa ntar jadi masyarakat yang brutal dan barbar (hiiiii…ngerii)

Tentu memfilter berita yang masuk baik untuk diri kita, maupun untuk keluarga kita (anak dan istri) akan sangat berpengaruh besar, minimal dalam lingkup keluarga yang saya..eh..kita sayangi.

Upaya-upaya pencegahan sejak dini akan sangat bepengaruh besar pada anak cucu kita, dengan memberikan mereka bisikan2 dan berita positif tentu akan membuat anak-anak kita kelak selalu berpandangan positif dalam hidup.

Saya rasa ditengah krisis yang semakin menjadi-jadi ini, hanya itu yang dapat saya berikan pada anak saya, sebagai rakyat yang tidak mampu berbuat apa-apa.
———————
TransTV ada acara Good news, setiap jam 16.00, meskipun terkesan menjadi guyonan, better than just [bad] news.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong> in your comment.