Archive for May, 2006


Bantuan yang Tidak Rata..

Sebelumnya saya menyaksikan beberapa Stasiun TV Swasta yang berhasil menghimpun dana miliaran rupiah, namun anehnya batuan tersebut belum mampu menyentuh semua korban!! Bahkan ada desa di imogiri yang mengaku belum mendapatkan apa-apa.

begitu juga dengan beberapa bantuan dari lembaga sosial sampai bantuan kemanusiaan dari luar negeri yang jumlah sangat besar, entah kenapa belum bisa menjangkau semua korban, terutama korban gempa yang ada di daerah pelosok. 90% lebih menumpuk di kecamatan (Bantul saja!) tapi entah kenapa tidak dapat didistribusikan.

Saya heran, ketika langsung meninjau dilapangan ternyata bantuan yang diberikan belum tersalurkan seperti yang diharapkan. Parahnya lagi, korban gempa di daerah Prambanan dan Klaten malah belum tersentuh bantuan yang berarti. Semua bantuan seolah-olah terpusat di Bantul (itupun hanya sampai di kecamatan saja, tidak menyentuh desa-desa).

Untungnya masih ada beberapa pihak swadaya yang peduli memberikan bantuan kedaerah-daerah terpencil. Meskipun masih sangat kurang.

Dari hasil pengamatan sementara, hal ini terjadi karena tidak ada komunikasi dan Koordinator Lapangan yang masih amburadul. Pihak pemberi bantuan dari luar Jogja, meskipun jumlahnya miliaran rupiah ternyata tidak mampu menyentuh daerah yang terpencil karena mereka tidak tahu keadaan lapangan. Sementara jumlah tenaga koordinator lapangan tidak memadai untuk menjangkau semua daerah bencana.

Para relawan yagn terjun langsung dilapangan (mahasiswa dan masyarakat Jogja yang tidak terkena bencana) sebenarnya mampu menjangkau daerah-daerah terpencil tersebut, namun karena keterbatasan dana akhirnya bantuan yang disalurkan tidak maksimal, hanya seadanya (biasanya dari sumbangan ‘tidak seberapa’ dari masyarakat Jogja dan dana swadaya mahasiswa sendiri)

Bantuan yang sangat-sangat diperlukan oleh korban gempa, setidaknya dalam jangka waktu seminggu ini sampai bantuan yang ‘layak’ dapat menjangkau mereka, adalah;

1. Tenda, terpal, Tempat berteduh –> Urgent! sebagian besar korban tidak punya rumah + cuaca sekarang hujan
2. Bantuan Logistik –> Urgent! Masakan siap dikonsumsi (bukan mie) dan air bersih
3. Perlengkapan lain-lain –> Lampu minyak (listrik masih padam), sandang dan obat2an

Hampir semua desa didaerah pelosok yang terkena musibah masih sangat kekurangan untuk 3 hal diatas.
Setidaknya mereka membutuhkan bantuan tersebut sampai infrastruktur sudah normal dan rumah-rumah sudah dibangun kembali.

Daerah Pleret sampai Segoroyoso belum mendapat bantuan yang layak!!
Masih banyak yang terpaksa mendirikan tenda (terpal seadanya) disamping kandang sapi dan bebek. Kondisi kesehatan sangat buruk..

Kondisi Terakhir Para Korban Gempa Jogja

Untuk wilayah Jogja utara dan Jogja kota, kerusakan tidak separah Jogja Selatan (bantul dan Imogiri), Prambanan, dan Klaten.

Pemandangan yang terlihat disepanjang Jalan Bantul sampai menuju desa sangat mengenaskan. Seperti yang disaksikan diTV, rumah-rumah sudah banyak yang rata dengan tanah (mungkin karena kebanyakan bangunan tua), sedangkan rumah-rumah yang masih berdiri sudah retak-retak dan terlihat tidak aman untuk ditempati.

Praktis sebagian besar warga tidak memiliki rumah (homeless) atau tidak berani menempati rumah mereka karena takut tertimpa bangunan. Para korban menempati tenda seadanya, meskipun sebagian besar masih sangat kekurangan tenda.

Sepanjang jalan, masyarakat yang terkena korban mendirikan posko-posko swadaya (biasanya tiap desa), setiap posko yang ada meminta bantuan dipinggir jalan kepada orang-orang yang lewat. Mereka terpaksa melakukan ini karena bantuan ‘yang layak’ sama sekali BELUM didapatkan. (Kok bantuan yang kabarnya puluhan milliar rupiah itu belum nyampe-nyampe ya..?!)

Para korban, terutama didaerah terpencil juga kesulitan mendapatkan logistik, karena tidak dapat membeli bahan pokok, dapur umum juga tidak tersedia. Kondisi dilapangan sungguh memprihatinkan (lagi-lagi dimana bantuannya!?)

Sejak hari minggu kemarin cuaca juga tidak bersahabat, setiap malam hujan sangat lebat, hal ini semakin menambah buruk kondisi para korban. Dengan sangat teramat minimnya tenda pengungsian akan membuat para korban semakin memprihatinkan, tanah yang becek, kekurangan logistik, tidak ada lampu dan obat2an potensi terjangkit penyakit akan sangat besar terutama bagi anak-anak.

Kondisi yang sama juga terjadi didaerah Prambanan dan Klaten, namun parahnya hingga senin kemarin mereka belum mendapat bantuan sedikitpun. Teman-teman yang menjadi relawan disana hanya bisa membantu seadanya, sehingga ada beberapa desa yang belum tersentuh bantuan sama sekali.

Bantuan yang layak dari pemerintah (atau lainnya) yang seharusnya sudah disalurkan 2 hari yang lalu sepertinya harus tertunda beberapa hari karena terpusat di Bantul dan koordinasi lapangan yang terlihat kacau.

Senin, 29 Mei, sudah banyak orang berdatangan ke Bantul dan sekitarnya. Ada yang hanya sekedar melihat-lihat kerusakan yang terjadi namun banyak juga rombongan relawan ‘dadakan’ yang langsung membawa bantuan ke desa-desa yang terkena bencana.

Rombongan relawan ini biasanya mengetahui daerah-daerah yang belum tersentuh bantuan karena informasi dari teman atau keluarga korban langsung, selanjutnya mereka langsung menggalang dana seadanya untuk segera disalurkan kedaerah yang membutuhkan.

Jogja Gempa!

eSabtu pagi, 27 Mei 2006, tepat pukul 06.00 gempa 5,6 - 5,9 skala ritcher terjadi tidak lebih dari 30 detik.

Lumayan kaget juga, padahal baru bangun tidur trus mau megang komputer. Didaerah saya (Selatan Jogja) tidak terjadi kerusakan yang parah. Awalnya dikira cuma gempa biasa (seperti tahun 2001), tidak destruktif. Sehabis gempa (kira-kira 10 detik) saya mencoba menghubungi teman-teman yang lain lewat handphone, ternyata seluruh jaringan mati, akhirnya saya kembali tidur lagi (santai banget ya..?!)

Gempa kedua terasa sekitar jam 8-an, tidak sekeras yang pertama, kemudian saya kembali tidur (!!). Tepat jam 9 pagi, tiba-tiba seorang teman datang ke kontrakan dan ngajakin ngungsi ke daerah utara (Kaliurang dan sekitarnya) katanya ada tsunami, air laut selatan sudah masuk ke wilayah kota Jogja! (hwarakadah..!)

Ditengah kepanikan teman-teman satu kontrakan, saya segera berpikir logis, untuk gempa ’sekecil’ itu (skala 5.9) tidak mungkin sanggup mengangkat air laut sampai menembus Jogja. Apalagi dengan kondisi geografis Jogja yang dikelilingi dengan pegunungan, rasanya mustahil air laut bisa ‘melompati’ pegunungan (hingga detik itu saya belum mengetahui kalau gempa itu ternyata menyebabkan kerusakan yang parah).

Sayangnya saya masih belum bisa menghubungi teman-teman yang ada di daerah Selatan karena jaringan telepon masih mengalami gangguan. Saya langsung berangkat kekampus untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Ternyata jalan-jalan besar sudah dipadati dengan masyarakat yang panik mau mengungsi karena takut Tsunami akan datang. Cerita salah seorang teman yang dari Selatan, pagi pasca gempa pertama, seluruh jalan dipadati dengan motor yang menuju ke Utara, benar-benar kepanikan massa!

Sekitar jam 11-an terjadi lagi gempa susulan, tidak begitu terasa didaerah Selatan, namun daerah Utara yang berdekatan dengan pusat gempa saya rasa sangat terasa.

Setelah itu seorang teman dari daerah Bantul yang berhasil mengungsi ke kampus cerita kalau desa-desa disana banyak yang roboh, rumah-rumah rata dengan tanah, beberapa kampus didaerah Selatan juga rusak parah (sampai saat itu saya masih belum berpikir kalau ada korban jiwa..bodoh ya..?!)

Awalnya masyarakat yang di utara tidak mengetahui kerusakan yang terjadi di Selatan, karena listrik padam dan komunikasi mati. Saya sendiri tahu setelah melihat acara berita sore harinya (di daerah saya listrik sudah menyala), baru mengetahui ternyata korban jiwa mencapai ribuan orang! Beberapa teman yang tinggal disana juga rumahnya ada yang rusak bahkan ada yagn sampai rata dengan tanah.

Di Utara sendiri penduduk masih was-was akan gempa susulan, alhadulillah sampai hari minggu keadaan masih aman-aman saja. Sebelumnya, pada hari sambtu dan minggu beberapa teman dari Pecinta alam Amikom (Mayapala) dan SENAT Mahasiswa sudah terjun langsung kelapangan untuk memberikan bantuan dan menjadi relawan.

Siyalnya, saya sendiri masih terlena dengan keadaan dan malah bersantai ria di kamar dan cuma melihat kejadian di TV (dasar introvert, kurang peka..) Meskipun akhirnya saya mengetahui bahwa korban jiwa dan harta sangat banyak tapi saya belum berniat membantu karena melihat keadaan di daerah Utara yang hampir tidak ada kerusakan berarti.

Sampai saat ini (selasa pagi , 30 Mei) masih banyak korban yang belum tersentuh bantuan sama sekali! terutama didaerah-daerah terpencil..kekurangan logistik dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat (hujan terus) semakin membuat keadaan memprihatinkan!

CAHAYA PARA WANITA

Para suami dan isteri semakin tidak sanggup untuk saling menanggung pasangannya. Di masa lalu keadaannya tidak seperti ini. Cinta yang mereka miliki memberi mereka cahaya, dan wajah mereka semakin bersinar setiap hari. Karena ibadah mereka kepada Allah membuat para pria dan wanita tersebut dipakaikan pakaian cahaya, kecantikan dan cinta.

Saat ini orang-orang tidak tertarik untuk beribadah kepada Allah. Mereka melalaikan hal tersebut. Sebagai hukumannya, mereka saling merasa bahwa pasangannya tidak menarik (jelek). Mereka hanya mengandalkan kecantikan lahiriah (fisik) yang mirip dengan kecantikan boneka maneqin di etalase toko.

Menyerupai pria dan wanita, memakai pakaian, tapi tak memiliki rasa. Tapi bila seseorang dipakaikan dengan keindahan surgawi, sebagai berkah dari Allah swt, maka tak akan pernah kehilangan kecantikannya walaupun sudah mencapai usia 90 atau 100 tahun. Tidak akan pernah berubah, karena mereka selalu diberi pakaian surgawi !
Para Rasul dengan pengetahuan surgawinya berkata : “Jika seseorang ingin kelihatan cantik atau dipakaikan pakaian kecantikan pada mereka, mereka harus berusaha bangun tengah malam dan subuh ” Karena pada waktu-waktu tersebutlah cahaya terang spiritual muncul dan dipakaikan pada orang-orang.

Dan ibadah tengah malam dan subuh mereka akan tampak pada wajahnya. Allah menganugerahkan pada mereka cahaya yang terang dan cinta. Siapapun yang menginginkannya , dapat memohon pada Alah pada waktu-waktu tersebut. Allah swt akan mengirimkan malaikat-malaikat dengan cahaya dan pakaian surgawi. Ia akan memakaikan para hambanya yang beribadah padaNya di bumi, yang melakukan salat dan memuliakanNya
Namun orang-orang sudah melupakan hal ini dan berusaha keras mempercantik wajah dan tubuhnya dengan kosmetik ( menghamburkan jutaan dolar dan Euros ). Membuat bibir mereka tampak seperti bibir keledai ! Mereka berusaha membuat diri mereka lebih muda.

Para remaja tidak berkata bahwa Allah yang memberikan mereka kecantikan, tapi mereka minta untuk memakai kosmetik agar tampak cantik, dan tak akan bisa! Selama para pria diizinkan memandang wanita, mereka akan mengambil kecantikan dari wajah dan tubuh
wanita. Maka para wanita yang berjilbab dan berpakaian menutup aurat , wajah dan tubuhnya akan tetap segar dan cantik, tanpa kosmetik !

Mereka tidak mengerti sumber utama kecantikan itu berasal dari mana. Mereka bertanya kenapa wanita Muslim memakai jilbab. Itu gunanya untuk menjaga kecantikan mereka ! Tapi para wanita sekarang terlalu bodoh! Wanita yang cerdas tidak akan menyia-nyiakan
kecantikannya. Zaman dahulu, para wanita menjaga wajah dan tubuh mereka agar tidak disentuh oleh seseorang yang tidak halal untuk mereka.

Orang-orang yang mengikuti setan dan ajarannya, akan jatuh dalam kesulitan yang merusak spiritual dan fisik manusia. Di masa lalu, spiritual terpelihara jika fisik dijaga. Sehingga semakin banyak kebahagiaan dan kecantikan dianugerahkan pada mereka.

Sekarang para wanita ingin membuka dan memamerkan kecantikan mereka. Tapi mereka tak akan berhasil, karena kecantikan mereka akan cepat memudar ! Terutama para wanita yang bekerja dengan pria. Pandangan para pria tersebut membawa efek buruk bagi mereka dan mereka cepat menjadi tua. Kecantikan para wanita yang bekerja dengan pria akan rusak. Keindahan dan kondisi tubuh mereka menurun dengan pesat.

Sekarang ini banyak sekali wanita yang mengeluh sakit. Misalnya mereka mengatakan terkena kanker. Dan saya bertanya berapa usianya, dan mereka mengatakan, 25 tahun ! Bagaimana bisa begitu ? Terutama para gadis yang masuk universitas dan selalu dekat dengan
pasangannyanya. Saat mereka lulus, kondisi fisik mereka sudah turun. Mereka menunda pernikahan, dan menghabiskan waktu mereka di universitas, belajar untuk mendapat ijazah yang tidak adamanfaatnya ! Cara yang salah untuk manusia, karena mereka mengikuti
ajaran setan ! Dan sekarang negara-negara membuat peraturan bahwa pria dan wanita adalah setara.

Jika kita setara, semua pria harus menjadi wanita ! Itu adalah setara. Allah menciptakan pria sebagai pria dan wanita sebagai wanita. Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa pria dan wanita setara ? Kebodohan apa ini ?! Sampai saat ini mereka membuat kesulitan bagi berbagai bangsa. Tapi mereka tak akan berhasil.
(Sumber:milis alumni_assalaam@yahoogroups.com)

Jatuh Cinta

Jatuh Cinta… berjuta rasanya…la..la.la..la…

Jatuh cinta.. berjuta impian..tertawa, bahagia, bersama…

oo..indahnya…

Jatuh cinta …
———————————————————–
Ok, apa yang anda rasakan ketika jatuh cinta?

Kalau saya sih rasanya gak begitu asik..
habis kepala jadi pusing, resah, gelisah. (Haha..terlalu didramatisir ya ..)

Dalam 20 tahun terakhir, ini adalah rasa cinta yang ke-2, yang pertama sebelumnya sih sukses ditolak..
Untuk yang ke-2 ini, tidak ada harapan macam-macam kok.. yeah just wait and see ..

Ok, kalau ada perkembangan lebih lanjut nanti saya tulis lagi deh ..

Jogja memang Murah

Salah satu alasan utama kenapa Jogja menjadi kota pilihan tempat kuliah, karena Jogja terkenal murah … semua relatif serba murah!

Dari biaya makan, tempat tinggal (kost), kebutuhan, sampai masalah hiburan anda bisa dapatkan dengan harga terjangkau.

Sangat berbeda dengan kota besar lain (Surabaya, Jakarta, Bandung), misalnya saja dari biaya kost rata2 rp.300.000/bln, kalau Jogja harga segitu sudah mewah banget tuh, lantai keramik+kamar mandi dalem..(rata2 100 - 150rb/bln)

Begitu juga dengan biaya makan, kalau mau berhemat cuma 5000/hari pun cukup (makan 2 kali sehari, minum air putih ^_^)

Biaya kuliah juga tidak mahal-mahal banget lah.. untuk UGM 1 semester rata-rata “cuma” 2,5 juta, UNY cuma 700rb-an (angkatan 2005). Untuk kampus swasta, contohnya tempat saya kuliah per semester cuma bayar sekitar 1,3 juta udah dapat fasilitas lengkap, lab komputer bagus, dan akses internet gratis (via hostpsot)

Untuk UII dan UPN Jogja harganya tidak terpaut jauh kok, per semester cuma 2jt-an..fasilitas yahh cukuplah (kira-kira menengah ke mewah..)

rata-rata dengan biaya sekitar 300rb-500rb/bulan mahasiswa sudah bisa hidup cukup. Apalagi di Jogja sering membuka lowongan kerja sampingan(part time) seperti jaga rental dan jaga warnet. Meskipun sebagian besar gajinya dibawah Upah Minimum (200rb-300rb)

Bandingkan dengan berapa besar biaya hidup di kota besar lainnya ?!!

Image Jogja sebagai kota pelajar dan penghasil SDM yang berkualitas juga menjadi pemicu daya tarik calon mahasiswa, apalagi dari luar pulau jawa.

Bagaimanapun juga, Jogja masih tetap menjadi pilihan bagi calon mahasiswa. Jogja benar-benar murah..

Bagaimana dengan anda, keponakan, anak, sepupu, saudara, anak tetangga anda?

Jogja [bukan] kota pelajar

Jogja [bukan] kota pelajar

sadar atau tidak, lambat laun JOgja telh berubah menjadi kota belanja, kota hiburan, kota mall, kota bla..bla..tapi tidak lagi kota pelajar

Kadang maklum juga sih, diakui setiap tahunnya Jogja berhasil menyedot mahasiswa, dari berbgai daerah, desa, kota, sampai luar jawa. Mau tidak mau demi menampung (yang jelas bukan kebutuhan belajar) kebutuhan para pendatang (dari pelajar, mahasiswa, sampai orang tua)

Para pedagang dari kelas teri samapi kelas kakap berlomba-lomba membuat fasilitas hiburan dengan tujuan utama para mahasiswa. Akhirnya bermunculanlah mall-mall, diskotek, pub, billiar pool, rental vcd (sampai bokep pun ada.. ^_^!), rental PS2 bertebaran, sampai lapak-lapak tuak pun tersedia!!

Sekarang sih suasana belajar sangat sedikit terasa di Jogja (masih mending daripada tidak ^_^) Kalau jalan-jalan ke kampus UNY (Un.Neg.JOgja) waktu sore hari, di balairung, di halaman-halaman sekitar kampus dan fakultas, ada aja yang melakukan aktivitas diskusi, olahraga, dan lain sebagainya…asik aja..

Kalau di UGM biasanya di KPTU, banyak yang melakukan memanfaatkan Hotspot area untuk ngenet..

Tempat lain?hmm..sangat susah..bahkan di daerah UGM seperti boulevard, balairung, dsb, dimanfaatkan sebagai fasilitas kegiatan pacaran, nongkrong, godain cewe…

Hanya berharap suasana kota pelajar dapat kembali seperti dulu lagi (walau rasanya tidak mungkin ya..hehe..)

Jogja sekarang benar-benar dipenuhi oleh hiruk pikuk mall, hiburan malam, sampai asap kendaraan yang semakin padat setiap tahun..

Jogja bukan lagi kota pelajar, tapi [mau] menjadi kota metropolitan!

Diatas Atap Masih Ada Langit

Sabtu - Minggu, 6-7 Mei 2006..

Hari kelabu, sebuah pelajaran berharga.

Hari itu saya mengikuti lomba english debate ALSA UGM dan KALAH…

Sebelumnya saya berpikir setidaknya dapat juara III lah, ternyata kalah telak, bahkan dapet nomer paling buncit dengan total skor 0, alis gak pernah menang…dari 3 ronde debate yang ada..siyal!!

bahkan melawan anak SMA pun saya harus bertekuk lutut, benar-benar pecundang..

Sebuah pelajaran menyakitkan dari kesombongan. Seperti ‘katak keluar dari tempurung’, padahal asumsi sebelumnya, saya adalah orang yang pintar dan termasuk kompeten, ternyata setelah keluar dari kampus baru benar-benar terasa artinya persaingan.

Perasaan kecewa pasti ada, tapi yang paling mengganggu adalah hancurnya kesombongan yang berhasil saya bangun selama ini, hancur dengan sekejap. Untung saja biaya pendaftaran lomba sebesar 150ribu masih ditanggung kampus, jadi tidak perlu harus menangisi uang yang melayang begitu saja.. :D
Yah..lumayanlah sebuah teguran kecil, tamparan kecil, pelajaran untuk orang yang takabur dan sombong.

Akhirnya saya harus belajar lagi dari awal, segera berbenah diri, menyadari bahwa dunia itu keras, untuk berhasil harus mau bekerja keras..tidak setengah-setengah..

Saya masih menjadi atap, diatas atap masih ada langit..