Kalah
Tim saya belum berhasil melewati babak penyisihan waktu lomba debat bahasa inggris di Jakarta kemarin. Saya kebetulan bukan sebagai tim lomba, tapi sebagai adjudicator (juri). -masing-masing tim di wajibkan untuk mengirimkan paling tidak satu perwakilan juri-
Untuk tim juri sendiri ada seleksinya, artinya juri tersebut layak tidak memberikan penilaian atau hanya sebatas ‘baru belajar’ (trainee). Biasanya orang yang baru pertama kali menjadi juri, hanya menjadi juri trainee..artinya tugasnya hanya melihat juri lain memberikan penilaian, kemudian memberikan second opnion kepada juri utama. Juri trainee sama sekali tidak berhak memberikan penilaian.
Saya baru pertama kali menjadi juri, meskipun udah angkatan 2003 tapi baru sekali seumur-umur ikutan ndaftar jadi juri (adjudicator) itu pun sebenarnya karena d kampus tidak ada yang mau berangkat. Awalnya minder banget karena saya serasa paling bego disana, juga rada pesimis hanya akan terpilih sebagai juri trainee..but i do the best.
Nah, asiknya saya gak masuk jajaran juri trainee, saya malah masuk ke jajaran juri panel (juri yang berhak memberikan penilaian). Benar-benar diluar perkiraan, padahal cara nge-juri aja gak pernah tahu gimana…baru belajar ya waktu nge-juri orang lomba itu (hehehe..). Tapi yang namanya manda ya belagak sok tau aja, sok bisa..sambil tanya sana-sini ke juri-juri yang udah pengalaman.
Karena masuk juri panel, tiba-tiba saya menjadi Pe-De berat. Senangnya bukan main bo’. Rasa minder tiba-tiba hilang..ganti Pe-De gak ketulungan..bwahahaha..
Target nya untuk lomba kali ini sebenarnya lolos babak penyisihan. Pada babak penyisihan lombanya dinilai berdasarkan skor yang berhasil dikumpulkan dari setiap lomba. Setiap tim harus bertanding ‘mulut’ sebanyak, kemudian jumlah kemenangan dan skor yang diperoleh akan diurutkan secara ascending. Tim yang berhasil masuk urutan 16 besar artinya lolos babak penyisihan (Kalau gak salah hampir seperti sistem piala dunia, bedanya gak pake grup-grup)
Sejauh ini tim saya menang 3 kali kalah 2 kali, masuk urutan 23. Artinya tidak lolos babak penyisihan
Sayangnya 2 kekalahan yang dialami tim saya serasa tidak adil. Hal ini juga dirasakan oleh beberapa tim lain. Terutama pada pertandingan ke-5, tim kami tiba-tiba dikalahkan secara tidak logis dan argumen dari juri setelah ditanya kenapa bisa kalah very unreasonable, very stupid argument!!
Saya ngerasa ada faktor-X dalam hal ini.Salah satunya mungkin karena kampus saya termasuk kampus kecil tidak terkenal kebetulan saat itu melawan salah satu universitas besar di Jakarta. Akhirnya timbul prasangka awal dari tim juri kalau tim saya lebih bodoh daripada tim lawan yang kampusnya lebih keren. Memang pada kondisi ini subjektifitas juri sangat absolut.
Padahal menurut tim saya, argumen-argumen yang mereka keluarkan sudah sangat logis dan berhasil mematahkan argument yang dibuat oleh tim lawan. Bahkan tim lawan cederung tidak membuat mekanisme solusi pemecahan yang berarti! tim lawan hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan bodoh untuk mematahkan argumen tim saya. Tapi masih tidak memberikan solusi yang jelas..
Dan tiba-tiba kami dibikin shock berat dengan dikalahkan..yeah shit happen..Sebenarnya pingin gak terima, but it wont change anything..Kalah karena sentimen juri.. Akhirnya kami hanya bisa menghibur diri, semoga dipertandingan lain kami tidak lagi mengalami hal ini.
Tapi setidaknya pribadi saya masih sedikit bangga, karena baik saya dan teman-teman sendiri sudah banyak kemajuan dan sangat kompak. Tim saya masih merasa yakin bahwa kemenangan terakhir adalah milik mereka dan mereka pantas masuk 16 besar dari jumlah 47 tim yang bertanding Se Jawa-Bali.
Lesson today:”world is not fair, but become proactive much better than become reactive..”
No comments yet.